Sabtu, 30 April 2016

MAKALAH "Lesson Plan".


KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang mana telah memberikan kenikmatan kepada kita semua, sehingga peyusun dapat menyelesaikan Makalah, pada mata kuliah Metodologi Pendidikan agama islam ini.
Sholawat serta Salam senantiasa tercurahkan kepada baginda kita Nabi Besar Muhamad SAW. Yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliah menuju zaman Islamiah.
Bergema seiring nada mengalunkan kata hati yang senantiasa mengungkapkan getaran jiwa, Penyusun dengan penuh kesadaran diri bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, hal ini dengan keterbatasan kemampuan dan kedangkalan ilmu yang kami miliki. Dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dan  pihak yang turut membantu terselesainya makalah ini.
Akhirnya kepada aIllah kita berharap dan berdo’a, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pembaca. Amin….!

Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................      i
DAFTAR ISI......................................................................................................      ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.      LatarBelakang....................................................................................      1
B.      RumusanMasalah...............................................................................      2
C.      Tujuan.................................................................................................      2
BAB II : PEMBAHASAN
A.      PengertiandanTujuanUtama Lesson Plan..........................................      3
B.      Manfaat Lesson Plan..........................................................................      5
C.      Langkah-langkahPembuatan Lesson Plan..........................................      7
BAB III : PENUTUP
A.      Kesimpulan.........................................................................................      14
B.      Saran..................................................................................................      14
DAFTAR PUSTAKA

 BAB I

PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Sebagai penegasan bahwa seseorang harus memiliki keterampilan dan kepandaian mensiasati suatu tujuan yang ingin dicapainya agar tepat sesuai dengan yang diinginkan. Seorang guru yang merupakan salah satu komponen manusiawi di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, salah satu peran seorang guru adalah menjadi fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar, guru harus menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedimikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar-mengajar akan berlangsung secara efektif
Dalam keterampilan membuat lesson plan banyak ditentukan oleh pengalaman dan kecerdasan, namun yang lebih baik bila dilandasi oleh suatu kemampuan teoritis yang berkenaan dengan itu, teori – teori itu antara lain terdapat berbagai model pengajaran.
Di Indonesia sejak tahun 1975, secara umum digunakan lesson plan yang mengambil suatu bentuk pelajaran satpel. Hampir semua sekolah menggunakan model ini, tapi ada juaga lesson plan yang buat dalam bentuk modul, sesungguhnya “modul”  lesson plan itu dapat banyak sekali, oleh karena itu, dirasakan perlu diberikan sobuah modul dasar yang teoritis dengan tentang teori – teori umum ini perlu dimiliki terutama oleh calon guru yang menyandang keahlian sebagai guru. pada makalah ini kami membuat ringkasan yang membicarakan sebuah modul modal dasar pembuatan lesson plan.
B.   Rumusan Masalah
-          Pengertian dan tujuan Lesson Plan
-          Manfaat pembuatan lesson plan
-          Langkah-langkah pembuatan Lesson Plan (metode dasar)
C.   Tujuan
-          Mengetahui Pengertian dan tujuan Lesson Plan
-          Mengetahui manfaat pembuatan lesson plan
-          Mengetahui Langkah-langkah pembuatan Lesson Plan (metode dasar)
BAB II
PEMBAHASAN
A.        Pengertian dan Tujuan Utama Lesson Plan
Dalam kehidupan sehari hari mungkin kita sudah banyak mendengar mengenai Lesson Plan. Lesson Plan itu sendiri adalah perencanaan yang dilakukan sebelum melakukan proses belajar mengajar dalam kelas. LessonPlan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.
Lesson Plan atau yang dalam bahasa kita lazim disebut sebagai RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) adalah perencanaan yang dilakukan seorang guru sebelum melakukan proses belajar mengajar dalam kelas. Perencanaan berasal dari kata rencana, yaitu pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, proses suatu perencnaan harus dimulai dengan penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta pengambilan keputusan yang lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, maka pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Sedangkan Pembelajaran bisa diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat, dan kemampuan dasar yang dimiliki termsuk gaya belajar maupun potensi yang ada di luar diri siswa seperti lingkungan, sarana, dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dari kedua makna tentang konsep perencanaan dan konsep pembelajaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada.
Lesson plan atau RPP dibuat oleh guru sebagai pengembangan dari KI dan KD yang telah tersusun dalam silabus secara rinci sesuai dengan tema pokok yang sudah ditetapkan. Lesson plan yang disusun oleh guru ini berlaku untuk satu atau beberapa kali pertemuan, terganutng pada alokasi waktu yang dibutuhkan untuk satu tema tertentu.
Tujuan utama pembuatan Lesson Plan yaitu :
1.    Memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran.
2.    Meningkatkan pembelajaran secara sistematis.
3.    Membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
B.        Manfaat Lesson Plan
Kenapa harus menyusun Lesson Plan? Ya, karena sebuah perencanaan merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum kita melaksanakan segala sesuatu agar tujuan yang kita harapkan dapat tercapai secara maksimal. Dengan perencanaan yang baik dan tepat, masalah-masalah yang berpotensi muncul dalam proses pelaksan pembelajaran dapat diminimalisir.
Dalam menyusun perencanaan, tentu kita akan mengambil keputusan alternatif yang terbaik agar proses pencapaian tujuan berjalan secara efektif. Dengan demikian, ada beberapa manfaat yang dapat kita petik dari penyusunan proses pembelajaran. 
1.      Melalui proses perencanaan yang matang dan akurat, kita akan mampu memprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan dapat dicapai. Sebab perencanaan disusun untuk memperoleh keberhasilan, dengan demikian kemungkinan-kemungkinan kegagalan dapat diantisipasi oleh setiap guru sehingga hasilnya pun akan lebih bagus dan optimal. Dengan perencanaan pebelajaran yang matang, seorang pendidika akan paham tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa, serta strategi apa yang pantas dilakukan sesuai dengan tujuan.
2.      Sebagai alat untuk memecahkan masalah. Seorang perencana yang baik akan dapat memprediksi kesulitan apa yang akan dihadapi oleh siswa dalam mempelajari materi pelajaran tertentu. Dengan perencanaan yang matang, guru akan dengan mudah mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin timbul, mengingat bahwa proses pembelajaran adalah proses yang kompleks dan situasional di mana berbagai kemungkinan bisa terjadi.
3.      Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat. Dewasa ini banyak sekali sumber-sumber belajar yang mengandung berbagai informasi. Melalui perencanaan, guru dapat menentukan sumber-sumber mana saja yang dianggap tepat untuk mempelajari suatu bahan pelajaran tertentu. Sehingga siswa tidak akan kesulitan dalam memilih dan menentukan mana sumber belajar yang cocok dengan tujuan pembelajaran.
4.      Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis, terarah, dan terorganisir. Dengan demikian, guru dapat menggunakan waktu seefektif mungkin untuk keberhasilan proses pembelajaran.


C.         Langkah – langkah pembuatan  Lesson plan
Menurut Glaser langkah pertama dan  terpenting dalam  membuat lesson plan ialah merumuskan tujuan ( instructional objective ). Disini instructional berarti pengajaran. Tujuan pengajaran  itu tidak boleh meyimpang dari tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Tujuan pengajaran yang dimaksud dalam model ini ialah suatu pola tingkah laku yang  khusus yang diharapkan dimiliki murid setelah proses  pengajaran selesai . tujuan  inilah yang dimaksud dengan tujuan instructional khusus ( TIK)
Langkah  kedua ialah meneliti keadaan kesiapan murid sebelum proses pengajaran. Kegiatan ini disebut oleh Glaser entering behavior. Disini kegiatan guru bukan saja meneliti kesiapan murid belajar, melainkan juga usaha membangkitkan minat memasuki proses belajar mengajar yang akan dilakukan. Ada beberapa teknik dalam membangkitkan minat.Biasanya yang paling banyak dilakukan pada langkah kedua ini ialah kegiatan pretest. Pretest memang salah satu bentuk kegiatan dalam meneliti kesiapan murid, dan juga kadang – kadang dapat sekaligus membangkitkan minat belajar pada murid.
Langkah ketiga  ialah menentukan langkah-lankah mengajar (instructional procedure). Inilah bagian utama dalam kegiata belajar mengajar  tersebut.
Langkah  terakhir ialah mengadakan evaluasi yang biasanya disebut postest,artinya tes yang dilakukan setelah selesai proses belajar mengajar.kegunaan  Post-test bukan saja untuk mengetahui berapa persen tujuan pengajaran dapat dicapai,melainkan  juga berguna sebagai bahan masukan yang penting untuk menyempurnakan  lesson plen tersebut, dengan perkataan lain post-test berguna sebagai umpan balik (feed back).


Contoh format Lesson Plan atau rencana pelaksanaan pembelajaran bisa dilihat dalam gambar di bawah ini:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglwqKbGAS13BsBwwauy0yn8TNfdIdqiU0_xc9EnpVogfVyHbn0T1jEi8F1-0EjTKZDRDbr5giuQkrX-TdRnsvotW6W4fUUaRk1PIlS-KGIJKX8XiTjRfpfcWrXW5fJbBrEaATZIur7mTAK/s1600/contoh-format-rpp-lesson-plan.png
 















Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.
Adapun langkah-langkah dalam pembuatan RPP adalah :
1.      Menuliskan Identitas Mata Pelajaran, yang meliputi:
ü  Satuan Pendidikan
ü  Kelas/Semester
ü  Mata Pelajaran/Tema Pelajaran
ü  Alokasi Waktu
ü  Jumlah Pertemuan.
2.      Menuliskan Standar Kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setap kelas dan suatu mata pelajaran. Pada bagian ini dituliskan standar kompetensi mata pelajaran,cukup dengan cara mengutip pada standar isi atau silabus pembelajaran yang telah dibuat guru.
3.      Menuliskan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu mata pelajaran. Pada bagian ini dituliskan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik setelah proses pembelajaran berakhir, cukup dengancara mengutip pada standar isi atau silabus pembelajaran yangtelah dibuat guru.
4.      Menuliskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau di obeservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan di ukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam membuat indikator ini, guru juga perlu melihat KD yang sama di kelas sebelum dansesudahnya agar lebih tepat dalam menentukan indikator sesuaidengan kelas di mana KD tersebut diajarkan.
5.      Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.Tujuan pembelajaran dibuat berdasarkan SK, KD, dan Indikator yangtelah ditentukan. Tujuan ini difokuskan tergantung pada indikator yang dirumuskan dari SK dan KD pada Standar Isi mata pelajaranmatematika yang akan dipelajari siswa.
6.      Menuliskan Materi Ajar.
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusanindikator pencapaian kompetensi.
7.      Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Pada bagian ini dituliskan semua metode yang akan digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.
8.      Merumuskan kegiatan pembelajaran.
Perumusan kegiatan pembelajaran terdiri dari
a.      Kegiatan pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.


b.      Kegiatan inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Pada kegiatan inti ini siswa mendapat fasilitas atau bantuan untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
c.       Kegiatan akhir
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat di lakukan dalam bentuk  rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
9.      Menentukan Media/Alat/Bahan/Sumber Belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kometensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Pada bagian ini dituliskan semua media/alat/bahan.sumber belajar yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.

10.  Penilaian Hasil Belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar di sesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada standar penilaian



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dasar-dasar yang dipertimbangkan di dalam metodologi pendidikan agama Islam adalah: Tujuan Pembelajaran, Peserta Didik, Bahan pelajaran, Fasilitas, Situasi, partisipasi, guru, dan Kebaikan dan kelemahan metode.
B.    Saran
Kami selaku penulis makalah ini mengharapkan sekali adanya partisipasi, kereksian dari teman - teman dan dengan telah tersusunnya makalah ini, mungkin kami mohon maaf jika ada kesalahan dari pengetikan ataupun bahasa yang kurang baku, dengan adanya koreksian dari teman – teman maupun dosen pengajar mudah – mudahan makalah ini lebik baik lagi


DAFTAR PUSTAKA
Catherine Lewis. 2004. Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm
Mulyana, S. 2007. Lesson Study . Bandung: LPMP-Jawa Barat.
Santrock, john W. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Usman, Basyiruddin., 2002, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : Ciputat Pers

KISAH "Kepada siapa aku harus bersedekah...???

Rasulullah Saw. bercerita:
Suatu hari, seorang laki-laki bermaksud untuk berderma. Ia pergi mencari orang yang layak menerima sedekahnya.
Begitu melihat orang yang ia pandang layak, ia bersedekah padanya dan ia tidak tahu kalau orang yang disedekahinya itu adalah seorang pencuri.
Orang-orang saat itu langsung mencibirnya. Bagaimana mungkin sedekahnya akan diterima, sementara ia bersedekah pada seorang pencuri yang jelas-jelas pelaku maksiat.
Begitu tahu sedekahnya salah sasaran, ia bermaksud kembali bersedekah.
Kali ini jatuh pada seorang wanita malam. Orang-orang pun mencibirnya kembali.
Setelah tahu sedekahnya salah sasaran lagi, orang ini lalu berniat untuk kembali bersedekah.
Namun, sayang, sedekahnya kembali salah sasaran. Orang yang dipandangnya layak menerima sedekah ternyata orang kaya raya. Orang-orang pun kembali mencibirnya.
Mendengar itu semua, malam harinya ia berdo'a; "Ya Allah segala puji bagi-Mu. Aku bermaksud berbuat baik melalui sedekah, tetapi sedekahku ini selalu salah sasaran; bukan diterima oleh orang yang berhak menerimanya. Ya Allah, mungkinkah Kau terima sedekahku ini?"
Selesai berdoa'a, ia bermimpi. Dalam mimpinya ia mendengar suara: "sedekahmu tetap Kami terima, karena sedekah yang kau berikan kepada pencuri semoga saja membuatnya berhenti dari perbuatan mencuri. Demikian juga dengan sedekah yang kau berikan pada wanita malam, mudah-mudahan membuatnya berhenti dan bertaubat.
Dan, sedekah yang kau berikan pada orang yang kaya semoga saja membuatnya rajin bersedekah-dan menjadi pelajaran atas apa yang telah kau berikan kepadanya. (HR. Bukari dan Muslim)

Jumat, 29 April 2016

AYAH, KEMBALIKAN TANGANKU...!!!


Kisah ini mungkin sebagai pelajaran untuk para orang tua dalam mendidik.

Sepasang suami isteri --seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini!!!"
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan "Saya tidak tahu... tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yang membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu..." jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu.
Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan..." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah... ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah... sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti..." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah... kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil... Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti...? Bagaimana Dita mau bermain nanti...? Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi," katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.

Semoga Bermanfaat...

Kamis, 28 April 2016

Makalah Kepemimpinan Dalam Pendidikan


KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang mana telah memberikan kenikmatan kepada kita semua, sehingga peyusun dapat menyelesaikan Makalah, pada mata kuliah Administrasi dan Supervisi Pendidikan ini.
Sholawat serta Salam senantiasa tercurahkan kepada baginda kita Nabi Besar Muhamad SAW. Yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliah menuju zaman Islamiah.
Bergema seiring nada mengalunkan kata hati yang senantiasa mengungkapkan getaran jiwa, Penyusun dengan penuh kesadaran diri bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, hal ini dengan keterbatasan kemampuan dan kedangkalan ilmu yang kami miliki. Dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dan  pihak yang turut membantu terselesainya makalah ini.
Akhirnya kepada aIllah kita berharap dan berdo’a, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pembaca. Amin….!

Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................   i   
DAFTAR ISI......................................................................................................   ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang....................................................................................   iii
B.   Rumusan Masalah.............................................................................   iv
C.   Tujuan...................................................................................................   iv
BAB II : PEMBAHASAN
A.   Pengertian............................................................................................   5
1.    Pengertian Kepemimpinan........................................................   5
2.    Pengertian Pendidikan...............................................................   6
B.   Ciri-ciri kepemimpinan......................................................................   7
C.   Kepemimpinan dalam pendidikan.................................................   8
D.   Tipe-tipe Kepemimpinan dalam pendidikan...............................   11
E.   Fungsi Kepemimpinan Pendidikan...............................................   14
F.    Syarat-syarat Pemimpin Pendidikan.............................................   14
G.   Ketempilan yang Harus Dimiliki Pemimpin.................................   15
H.   Model-model kepemimpinan dalam pendidikan........................   16
BAB IV : PENUTUP
A.   Kesimpulan..........................................................................................   23
B.   Saran.....................................................................................................   24


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan  faktor  utama  dalam  pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan  sangat  berperan dalam membentuk baik  atau buruknya pribadi manusia menurut  ukuran normatif. 
Sekolah sebagai organisasi, di dalamnya terhimpun unsur-unsur yang masing-masing baik secara perseorangan maupun kelompok melakukan hubungan keja sama untuk mencapai tujuan. Unsur-unsur yang dimaksud, tidak lain adalah sumber daya manusia  yang  terdiri dari kepala sekolah, guru-guru, staf, peserta  didik  atau  siswa, dan orang  tua  siswa. 
Dalam hal ini kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tugas untuk  sekolah, kepala sekolah bertanggung  jawab atas  tercapainya  tujuan sekolah. Kepala sekolah diharapkan menjadi pemimpin dan  inovator  di  sekolah. Oleh  sebab  itu, kualitas kepemimpinan kepala sekolah adalah signifikan bagi keberhasilan sekolah.
Kemampuan professional kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yaitu bertanggung jawab dalam menciptakan suatu situasi belajar mengajar yang kondusif,  sehingga guru-guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik dan peserta didik dapat belajar  dengan  tenang.  Disamping  itu kepala  sekolah dituntut  untuk dapat bekerja sama dengan bawahannya, dalam hal ini guru.
Kepala  sekolah  adalah pengelola pendidikan di sekolah secara keseluruhan, dan kepala sekolah adalah pemimpin  formal pendidikan di sekolahnya. Dalam suatu lingkungan pendidikan di  sekolah, kepala  sekolah bertanggung jawab penuh untuk mengelola dan memberdayakan guru-guru agar terus meningkatkan kemampuan kerjanya.
Keberhasilan  suatu  sekolah pada hakikatnya terletak pada efisiensi dan efektivitas penampilan seorang kepala sekolah
2.      Rumusan Masalah
a.     Apa Arti Kepemimpinan Pendidikan?
b.     Apakah cirri-ciri kepemimpinan?
c.      Bagaimanakah kepemimpinan dalam pendidikan Islam?
d.     Pendekatan-pendekatan apakah yang ada dalam kepemimpinan pendidikan
e.     Bagaimana peranan evaluasi dalam kepemimpinan pendidikan
3.      Tujuan
a.     Untuk mengetahui arti dan fungsi dari kepemimpinan pendidikan.
b.     Untuk mengetahui tipe-tipe kepentingan kependidikan.
c.      Untuk mengetahui keterampilan kepemimpinan pendidikan.
d.     Untuk mengetahui berbagai pendekatan yang ada dalam kepemimpinan pendidikan.
e.     Untuk mengetahui peranan evaluasi dalam kepemimpinan pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN
A.   PENGERTIAN
1.     Pengertian kepemimpianan
Secara umum, kepemimpinan (leadership) adalah kegiatan manusia dalam kehidupan. Secara etimologi, kepemimpinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar “pimpin” yang jika mendapat awalan “me” menjadi “memimpin” yang berarti menuntun, menunjukkan jalan dan membimbing.
Kepemimpinan adalah sikap dan perilaku untuk mempengaruhi para bawahan agar mereka mampu bekerja sama sehingga dapat bekerja secara lebih efisien dan efektif untuk mencapai angka produktivitas kerja sesuai dengan yang telah ditetapkan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah sifat yang harus dimiliki oleh perencana, pengorganisasi, pengarah, pemotivasi, dan pengendali untuk mempengaruhi orang-orang dan mekanisme kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[1]
Definisi lain dari kepemimpinan adalah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang sehingga seseorang tersebut mampu menggerakkan orang-orang untuk melakukan perbuatan atau tindakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan
Pemimpin pada hakekatnya adalah seorang yang mempunyai  kemampuan untuk mempengaruhi prilaku orang lain didalam kerjaanya  dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap

pemberian tugas pemimpin harus memberikan suatu arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan  tugannya dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian kepemimpin mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan social yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya terjadi suatu hubungan timbal  balik.
2.     Pengertian pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Undang Undang SISDIKNAS no. 20 tahun 2003, adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sedemikian rupa supaya peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif supaya memiliki pengendalian diri, kecerdasan, keterampilan dalam bermasyarakat, kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian serta akhlak mulia. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pendidikan berasal dari kata “didik” dan mendapat imbuhan berupa awalan ‘pe’ dan akhiran ’an’ yang berarti proses atau cara perbuatan mendidik. Maka definisi pendidikan menurut bahasa yakni perubahan tata laku dan sikap seseorang atau sekelokmpok orang dalam usahanya mendewasakan manusia lewat pelatihan dan pengajaran.
Menurut Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, pengertian pendidikan yaitu tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak yang bermaksud menuntun segala kekuatan kodrati pada anak-anak itu supaya mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mampu menggapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.[2]
Kata pendidikan menunjukkan arti yang  dapat dilihat dari dua segi yaitu: pendidikan sebagai usaha atau proses mendidik dan mengajar seperti yang dikenal sehari-hari. Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang membahas berbagai masalah tentang hakekat dan kegiatan  mendidik dan mengajar dari zaman ke zaman dan mengajar  dengan segala cabang-cabangnya yang telah berkembang begitu luas dan mendalam.
Dari titik tolak itu dapatlah disimpulkan pengertiannya “kepemimpinan pendidikan” adalah sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir dan mengkoordinir dan menggerakan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, supaya kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efektif dan efesien didalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan.
B.   Ciri-ciri kepemimpinan
Menurut Harrel, sifat utama kepemimpinan adalah :
1.  Kemauan keras (strong will)
2.  Mementingkan hal-hal yang lahir (extroversion)
3.  Kebutuhan akan kekuatan (power need)
4.  Kebutuhan akan prestasi (achievement need)
Menurut Keith Davies, bahwa seorang pemimpin harus memiliki lima sifat utama:
1.  Kecerdasan (intelegensia)
2.  Kematangan sosial (social maturity)
3.  Motivasi dari dalam (inner motivation)
4.  Sikap orientasi hubungan antar manusia (human relation oriented attitude)
5.  Keluasan pandangan sosial (social readth)
Jabatan pemimpin merupakan jabatan yang istimewa sebab, pemimpin organisasi apapun dipersyaratkan memiliki berbagai kelebihan menyangkut pengetahuan, perilaku, sikap, maupun keterampilan dibanding orang lain. Pada umumnya, seseorang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, tetapi sebaliknya juga memiliki kelemahan-kelemahan tertentu.
Figur pemimpin yang ideal sangatlah diharapkan oleh masyarakat, lantaran seorang pemimpin menjadi contoh terbaik dalam segala ucapan, perbuatan, dan kebiasaan, termasuk dalam hal berpakaian.
C.   Kepemimpinan dalam pendidikan
Salah satu bentuk kepemimpinan dalam lembaga pendidikan islam adalah kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan.[3] karena ia merupakan pemimpin dilembaganya, Mulyasa mengatakan, kegagalan dan keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh kepala sekolah.karena mereka merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh sekolah menuju tujuannya.sekolah yang efektif , bermutu, dan favorit tidak lepas dari peran kepala sekolahnya. Maka ia harus mampu membawa lembaganya kearah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan,ia harus mampu melihat adanya perubahan serta mampu melihat masa depan dalam kehidupan global yang lebih baik. Kepala sekolah harus bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua urusan pengaturan dan pengelolaan sekolah secara formal kepada atasannya atau secara informal kepada masyarakat yang telah menitipkan anak didiknya.
Blimberg (1987) membagi tugas kepala sekolah sebagai berikut :
1.    menjaga agar segala program sekolah berjalan sedamai mungkin (as peaceful as possible);
2.    menangani konflik atau menghindarinya;
3.    memulihkan  kerjasama;
4.    membina para staf dan murid
5.    mengembangkan organisasi, dan
6.    mengimplementasi ide-ide pendidikan.
Kualitas dan kompetensi kepala sekolah secara umum setidaknya mengacu kepada empat hal pokok,yaitu :
1.    sifat dan ketrampilan kepemimpinan ;
2.    kemampuan pemecahan masalah;
3.    ketrampilan social;dan
4.    pengetahuan dan kompetensi professional.
Secara garis besar kualitas dan kompetensi kepala sekolah dapat dinila dari kinerjanya dalam mengaktualisasikan fungsi dan perannya sebagai kepala sekolah yaitu meliputi:
1.    Sebagai Pendidik (educator)
a)   Kemampuan membimbing guru dalam melaksanakan tugas
b)   Mampu memberikan alternative pembelajaran yang efektif
c)    Kemampuan membimbing bermacam-macam kegiatan kesiswaan
2.    Sebagai Manajer
a)    Kemampuan menyusun organisasi personal dengan uraian tugas sesuai standar
b)    Kemampuan menggerakkan stafnya dan segala sumber daya yang ada serta lebih lanjut memberikan acuan yang dinamis dalam kegiatan rutin dan temporer
c)    Kemampuan menyusun program secara sistematis
3.    Sebagai Administrator
a)     Kemampuan mengelola semua perangkat KBM secara sempurna dengan bukti berupa data administrasi yang akurat
b)     Kemampuan mengelola administrasi kesiswaan , ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, dan administrasi persuratan dengan ketentuan yang berlaku
4.    Sebagai Supervisor
Kegiatan utama pendidikan disekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu memsupervisi perkerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.
a)    Kemampuan menyusun program supervise pendidikan di lembaganya yang dapat melaksanakan dengan baik
b)    Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi untuk peningkatan kinerja guru dan karyawan
c)    Kemampuan memanfaatkan kinerja guru atau karyawan untuk pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan
5.    Sebagai Pemimpin
Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pegawasan, meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemempuan mengambil keputusan dan kemempuan berkomunikasi. kepribadian kepala sekolah sebagai leader tercermin dalam sifat-sifat jujur, percaya diri, tanggung jawab, beranimengambil resiko, dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, teladan.
a)  Memiliki kepribadian yang kuat
b)  Memahami semua personalnya yang memiliki kondisi yang berbeda, begitu juga kondisi siswanya berbeda dengan yang lainnya
c)  Memiliki upaya untuk peningkatan kesejahteraan guru dan karyawannya
6.    Sebagai Inovator
Kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan perkerjaannya secara kostruktif, kreatif, delegatif, integrative, rasional dan obyektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta adatabel dan fleksibel.
a)  Memiliki gagasan baru (proaktif) untuk inovasi dan perkembangan madrasah, memilih yang relevan untuk kebutuhan lembaganya
b)  Kemampuan mengimplementasikan ide yang baru dengan baik
c)  Kemampuan mengatur lingkungan kerja sehingga lebih kondusif
D.   Tipe-tipe Kepemimpinan dalam pendidikan
Konsep seorang pemimpin pendidikan tentang kepemimpinan dan kekuasaan yang memproyeksikan diri dalam bentuk sikap kepemimpinan, sifat dan kegiatan yang dikembangkan dalam lembaga pendidikan yang akan dipimpinnya sehingga akan mempengaruhi kualitas hasil kerja yang akan dicapai oleh lembaga pendidikan tersebut.
Bentuk-bentuk kepemimpinan sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tetapi disekolahpun terdapat berbagai macam tipe kepemimpinan ini. Sebagai pemimpin pendidikan yang officiat leadee, yang cara kerja dan cara bergaulnya dapat dipertanggung jawabkan dan bias mengarahkan orang lain untuk turut serta mengerjakan sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.
Berdasarkan sifat dan konsep kepemimpinan maka ada tiga tipe pokok kepemimpinan yaitu:
1.  Tipe otoriter
Pada kepemimpinan yang otoriter, semua kebijakan atau policy  dasar ditetapkan oleh pemimpin sendiri dan pelaksanaan selanjutnya ditugaskan kepada bawahannya. Semua perinta, pemberian tugas dilakukan tanpa mengadakan konsultasi sebelumnya dengan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin otoriter berasumsi bahwa maju mundurnya organisasi hanya tergantung pada dirinya. Dia bekerja sungguh-sungguh, belajar keras, tertib dan tidak boleh dibanta.
2.  Tipe laissez faire
Pada tipe laissez faire ini pemimpin memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap anggota staf di dalam tata procedur dan apa yang akan dikerjakan uuntuk pelaksanaan tugas-tugas jabatan mereka. Mereka mengambil keputusan dengan siapa ia hendak bekerjasama. Dalam penetapannya menjadi hak sepenuhnya dari anggota kelompok atau staf lembaga pendidikan itu.
Pemimpin ingin turun tangan bilamana diminta oleh staf, apabila mereka meminta pendapat-pendapat pemimpin tentang hal-hal yang bersifat tekis, maka barulah ia mengemukakan pendapat-pendapatnya. Tetapi apa yang dikatakannya sama sekali tidak mengikat anggota mereka boleh menerima atau menolak pendapat tersebut.
Apabila hal ini kita jumpai di sekolah, maka dalam hal ini bila akan menyelenggarakan rapat guru biasanya dilaksanakan tanpa kontak pimpinan (kepala Sekolah), tetapibisa dilakukan tanpa acara. Rapat bias dilakukan sebagai anggota/guru-guru dalam sekolah tersebut menghendakinya.  
3.  Tipe demokrasi
Dalam tipe kepemimpinan ini seorang pemimpin slalu mengikut sertaka seluruh anggota kelompoknya dalam mengambil keputusan, kepala sekolah yang bersifat demikian akan slalu menghargai pendapat anggota/guru-guru yang ada dibawahannya dalam rangka membina sekolah.
Sifat kepemimpinan yang demokratis pada waktu sekarang terhadap lebih dari 500 hasil researeh tentang kepemimpinan, jika  bahan itu di manfaatkan dengan baik maka kita akan dapat mempergunakan sikap kepemimpinan yang baik pula.
Dalam hasil researeh itumenunjukkan bahwa untuk mencapai kepemimpinan yang demokratis, aktivitas pemimpin harus:
a)  Meningkatkan interaksi kelompok dan perencanaan kooperatif.
b)  Minciptakan iklim yang sehat untuk perkembangan individual dan memecahkan pemimpin-pemimpin yang potensial
Hasil ini dapat dicapai apabila ada partisipasi yang aktif dari semua anggota kelompok yang berkesempatan untuk secara demokrasi member kekuasaan dan tanggung  jawab. Pemimpin demokrasi tidak melaksanakan tugasnya sendiri. Ia bersifat bijaksana di dalam pembagian pekerjaan dan tanggung jawab. Dapat dikatakan bahwa tanggung jawab terletak pada pundak dewan guru seluruhnya, termasuk pemimpin sekolah. Ia bersifat ramah dan slalu bersedia menolong bawahannya dengan nasehat serta petunjuk jika dibutuhkan.

4.  Tipe Pseudo  Demokratis
Tipe ini disebut juga demokratis semua atau manipulasi diplomatik. Pemimpin bertipe ini hanya tampaknya saja bersifat demokratis padahal sebenarnya dia bersifat otokratik.
Nampak seperti demokratis tetapi semu karena tetap otoriter dan demi kepentingan kelompok tertentu saja. Ide – ide atau gagasanyang ia terapkan selalu didiskusikan tetapi akhirnya bawahan didesak untuk menerima ide pimpinan tersebut sebagai keputusan bersama.
E.   Fungsi Kepemimpinan Pendidikan
Fungsi utama pemimpin pendidikan adalah kelompok untuk belajar memutuskan dan bekerja, antara lain :
a.     Pemimpin membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerjasama dengan penuh rasa kebebasan
b.      Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisir diri yaitu ikut serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan dan memjelaskan tujuan
c.      Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja, yaitu membantu kelompok dalam menganalisis situasi untuk kemudian menetapkan prosedur mana yang paling efektif dan efisien
d.     Pemimpin bertanggungjawab dalam mengambil keputusan bersama dengan kelompok
e.     Pemimpin bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi organisasi.
F.    Syarat-syarat Pemimpin Pendidikan
Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh pemimpin pendidikan antara lain:
1.     Rendah hati dan sederhana
2.     Bersifat suka menolong
3.     Sabar dan memiliki kestabilan emosi
4.     Percaya kepada diri sendiri
5.     Jujur, adil, dan dapat dipercaya
6.     Keahlian dalam  jabatan
G.   Ketempilan yang Harus Dimiliki Pemimpin
1.  Keterampilan dalam memimpin
Pemimpin harus menguasai cara-cara kepemimpinan, memiliki keterampilan memimpin supaya dapat bertindak sebagai seorang pemimpin yang baik. Untuk itu harus memiliki kemampuan: menyusun rencana bersama, mengajak anggotanya berpartisipasi, memberi bantuan kepada anggota kelompok, memupuk moral kelompok, bersama-sama membuat keputusan. Pemimpin tidak hanya tahu, tetapi harus dapat melaksanakan.
2.  Keterampilan dalam hubungan insani
Hubungan insani merupakan hubungan antar manusia. Ada dua jenis hubungan yaitu :
a.    Hubungan karena tugas resmi
b.    Hubungan kekeluargaan
3.  Keterampilan dalam proses kelompok
Maksud utama adalah meningkatkan partisipasi anggota kelompok sehingga dapat mengefektifkan potensi. Pemimpin sebagai penengah , pendamai, dan bukan menjadi hakim.
4.  Keterampilan dalam proses administrasi personil
Kegiatan ini mencangkup segala usaha yang menggunakan keahlian yang dimiliki petugas secara efektif. Kegiatannya meliputi seleksi, pengangkatan, penempatan, penugasan, orientasi, pengawasan, bimbingan, dan pengembangan, serta kesejahteraan.
5.   Keterampilan dalam menilai
Merupaka usaha untuk mengetahui sejauh mana tujuan sudah tercapai. Teknik dan prosedur evaluasi : menentukan tujuan penilaian, menetapkan norma/ukuran yang akan dinilai, mengumpulkan data-data, pengolahan data, menyimpulkan hasil penilaian.
H.   Model-model kepemimpinan dalam pendidikan
1.  Kepemimpinan Visioner
a)     Konsep visi :
Lee Roy Beach (1993:50) mendefinisikan visi sebagai berikut :
Vision defines the ideal fiture, perhaps implying retention of the current cultura and the activities, or perhaps implying change.
Visi menggambarkan masa depan yang ideal, barangkali menyiratkan ingatan budaya yang sekarang dan aktivitas, atau barangkali menyiratkan perubahan
Terbentuknya visi dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pendidikan, pengalaman professional, interaksi da komunikasi, penemuan keilmuan serta kegiatan intelektual yang membentuk pola piker tertentu(Gaffar, 1994 : 56)
Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan “school based management”. Kepemimpinan ini yang difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan, menjadi agen perubahan (agen of change) yang unggul dan menjadi penentu arah organisasi yang tahu prioritas, menjadi pelatih yang provisional dan menjadi pembimbing anggota lainnya.
Visioner Leadership didasarka pada tuntutan perubahan zaman yang menuntut dikembangkannya secara intensif peran pendidikan dalam menciptaka sumber daya menusia yang handal.
b)     Untuk menjadi pemimpin yang Visioner, maka seseorang harus :
1)    Memahami konsep visi
2)    Memahami karakteristik dan unsure visi
c)     Karakter visi antara lain:
1)    Memperjelas arah dan tujuan, mudah dimengerti dan diartikulasi
2)    Mencerminka cita-cita yang tinggi dan menetapka  standart of excellence
3)    Menembuhkan inspirasi, semanngat, kegairahan, dan komitmen
4)    Menciptakan makna bagi anggota oeganisasi
5)    Merefleksikan keunikan, atau keistimewaan organisasi, dst
6)    Memahami tujuan visi
d)     Tujuan visi antara lain :
1)    Memperjelas arah umum perubahan kebijakan organisasi
2)    Memotivasi karyawa kea rah yang baik
3)    Membantu proses mengkoordinasi tindakan-tindakan tertentu orang-orang yang berbeda
e)     Langkah – langkah menjadi Visionary Leadership
1)    Penciptaan Visi, dari hasil kreatifitas pikir pemimpin berupa ide-ide ideal tentang cita-cita di masa depan.
2)    Perumusan Visi
Ø Pembentukan dan perumusan visi oleh anggota tim kepemimpinan
Ø Merumuskan strategi secara konsensus
Ø Membulatkan sikap dan tekad sebagai total commitment untuk mewujudkan visi ini menjadi suatu kenyataan.

3)    Transformasi Visi, Kemampuan membangun kepercayaan
4)    Impelemntasi Visi , Kemampuan pemimpin dalam menjabarkan dan menterjemahkan visi ke dalam tindakan.
f)      Pendidikan harus mampu mengantisipasi berbagai tuntutan.
1)    Sekolah diharapkan dapat menyelenggarakan program yang lebih humanis
2)    Dunia pendidikan harus mampu menjamin peserta didiknya di berbagai bidang profesi sebagai syarat untuk memperoleh hak bekerja sesuai dengan kompetensinya.
3)    Pendidikan harus mampu menyiapkan hasil didik yang kompeten dalam berbagai aspek.
4)    Kurikulum pendidikan harus mampu menjaga keserasian antara program dengan aspirasi masyarakat dan negara
5)    Pendidikan diharapkan mampu menampung politisasi  pendidikan, kebutuhan belajar sepanjang hayat dan internasionalisasi pendidikan.
g)     Menjadi Seorang pemimpin yang Visioner dalam Menghasilkan Produktivitas Pendidikan
1)    Berusaha merekayasa masa depan untuk menciptakan pendidikan yang produktif
2)    Menjadikan dirinya sebagai agen perubahan
3)    Memposisikan sebagai penentu arah organisasi
4)    Pelatih atau pembimbing yang profesional
5)    Mampu menampilkan kekuatan pengetahuan berdasarkan pengalaman profesional dan pendidikannya
2.    Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional dibangun dari dua kata :


a)    Kepemimpinan (leadership) :
Setiap tindakan yang dilakukan oleh eseorang untuk mengkoordinasikan, mengarahkan, dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan.
b)    Transformasional (transformational) :
Mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda.
Kepemimpinan Transformasional diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikutnya.
1.    Formulasi dari teori Kepemimpinan Transformasional antara lain :
a.  Karisma
b.  Stimulasi intelektual
c.  Perhatian yang individualisasi
Dapat dikatakan bahwa seorang kepala sekolah menerapkan teoti Kepemimpinan Transformasional jika dia mampu mengubah energy sumber-sumber daya baik manusia maupun non manusia untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah seperti yang dikemukakan oleh Sudarwan Danim (2003 : 54)
Menurut Leithwood dkk (1999) mengatakan “transformational leadership is seen to be sensitive to organiation building developing shared vision, distributing leadership and building school culture necessary to current restructing efforts in school”
Pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memilki visi ke depan dan mampu mengidentifikasikan perubahan lingkungan serta mampu mentransformasikan perubahan tersebut ke dalam organisasi.
2.    Dimensi - dimensi kepemimpinan Transformasional Menurut BASS dan AVOLIO (1994) dengan konsep 4I
a.  Idealized Influenced, perilaku yang menghasilkan rasa hormat (respect) dan rasa percaya dari orang- orang yang dipimpinnya.
b.  Inspirational Motivation, senantiasa menyediakan tantangan dan makna atas pekerjaan orang-orang yang dipimpinnya.
c.  Intellectual Simulation, senantiasa menggali ide-ide baru dan solusi  yang kreatif dari orang-orang yang dipimpinnya
d.  Individualized consideration, memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan prestasi  dan kebutuhan orang yang dipimpinnya.
Model kepemimpinan transformasial perlu diterapkan dalam dunia pendidikan, karena merupakan salah satu solusi krisis kepemimpinan terutama dalam bidang pendidikan.  Olga Epitropika (2001:1) mengemukakan 6 hal mengapa kepemimpinan transformasial penting bagi suatu organisasi.
a.  Secara signifikan meningkatkan kinerja organisasi.
b.  Secara positif dihubungkan dengan orientasi pemasaran jangka panjang dan kepuasan pelanggan.
c.  Membangkitkan komitmen para anggota terhadap organisasi.
d.  Meningkatkan kepercayaan pekerja dalam manajemen dan perilaku keseharian organisasi.
e.  Meningkatkan kepuasan [ekerja melalui pekerjaan dan pemimpin.
f.   Mengurangi stress para pekerja dan meningkatkan kesejahteraan.
3.    Implementasi odel kepemimpinan transformasional falam organisasi / intstansi pendidikan perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a.  Mengacu pada nilai – nilai agama yang ada dalam organisasi / instansi atau bahkan suatu negara.
b.  Disesuaikan dengan nilai – nilai yang terkandung dalam sistem organisasi atau instansi tersebut.
c.  Menggali budaya yang ada dalam organisasi tersebut.
d.  Karena sistem pendidikan merupakan suatu sub sistem maka harus memperhatikan sistem yang lebih besar yang ada di atasnya seperti sistem suatu negara.
4.    Kritisi model kepemimpina transformasional :
Kepemimpinan transformasional hampir sama dengan kepemimpinan transforming. Burns membatasi kepemimpinan yang mentransformasi kepada para pemimpin yang selalu mendapat pencerahan(enlightened) yang menunjuk kepada nilai – nilai moral yang positif dan kebutuhan – kebutuhan tingkat yang lebih tinggi dari para pengikutnya.bagi Bass,seorang pemimpin yang mengaktifkan motivasi pengikut dan meningkatkan komitmennya adalah transformasional, tidak memperhatikan apakan memiliki efek yang menguntungkan untuk pengikutnya atau tidak. Jadi, dengan demikian kepemimpinan transforming merujuk pada pencerahan yang memperhatikan kepemimpinan nilai – nilai moral positif dan kebutuhan – kebutuhan di tingkat lebih tinggi dari para pengikutnya, sedangkan kepemimpinan transformasional tanpa memperhatikan efeknya terhadap pengikutnya atau mengesampingkan nilai – nilai moral yang positif.
  Hal ini senada dengan pendapat Golmen, et.al (2003) yang mengatakan kepemimpinan transforming adalah kepemimpinan yang memiliki kesadaran sendiri tentang emosionalnya, manajemen diri sendiri, kesadaran sosial dan manajemen hubungan kerja. Pola perilaku kepemimpinan yang seperti inidiharapkan berpengaruh positif terhadap bawahannya dalam membentuk nilai – nilai dan keyakinan untuk mencapai tujuan organisasi (Anderson 1998).
  Model kepemimpinan lain yang perlu diperhatikan sebagai kritisi terhadap kepemimpinan transformasional adalah kepemimpnan amanah. Kepemimpinan amanah adalah kepemimpinan yang dilandasi dengan iman dalam rangkan mencapai tingkat ketaqwaan kepada Allah SWT. Model kepemimpinan ini selalu memikirkan keadaan umatnya dan jauh dari memikirkan kepentingan pribadi atau golongannya.  Pemimpin selalu berhati – hati dalam menjaga keimanannya untuk memperoleh derajat taqwa disisi Allah SWT (Ash Shalabi, 2003).



BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Tipe-tipe kepemimpinan pada umumnya adalah tipe kepemimpinan pribadi, Tipe kepemimpinan non pribadi, tipe kepemimpinan otoriter, tipe kepemimpinan demokratis, tipe kepemimpinan paternalistis, tipe kepemimpinan menurut bakat.Disamping tipe-tipekepemimpinan tersebut juga ada pendapat yang mengemukakan menjadi tiga tipe antara lain : Otokratis, Demokratis, dan Laisezfaire. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pemimpin meliputi ; kepribadian (personality), harapan dan perilaku atasan, karakteristik, kebutuhan tugas, iklim dan kebijakan organisasi, dan harapan dan perilaku rekan. Yang selanjutnya bahwa factor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesuksesan pemimpin dalam melaksanakan aktivitasnya. 
Tugas pemimpin dalam kepemimpinannya meliputi ; menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok, dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai, meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.Pemimpin yang professional adalah pemimpin yang memahami akan tugas dan kewajibannya, serta dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan

memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
B.   Saran
Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, maka penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut :
1.  Hendaknya para pemimpin, khususnya pemimpin dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan aktivitasnya kepemimpinannya dalam mempengaruhi para bawahannya berdasarkan pada kriteria-kriteria kepemimpinan yang baik.
2.  Dalam membuat suatu rencana atau manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan atau kemampuan yang dimiliki oleh para bawahannya, dan dalam pembagian pemberian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
3.  Pemimpin hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
4.  Dalam melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu hubungan kerjsama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi atau instnasi.






[1]Tri Supriyatno, Marno, Manajemen dan Kepemimpinan Kependidikan Islam, (Bandung: Refika Aditma, 2008), hal. 30
[3]Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung:Remaja Rosda Karya, 2004, hal 24